Hidrometer: Sejarah, Prinsip Kerja, dan Perawatannya

Hidrometer adalah suatu alat yang di desain untuk mengukur kepadatan relatif atau berat jenis suatu cairan. Cairan yang diukur berat jenisnya dengan menggunakan alat ukur khusus ini nantinya akan diketahui rasio kepadatan dengan densitas airnya.

Alat ukur ini umumnya terbuat dari kaca berkualitas dan terdiri dari beberapa bagian seperti bola bobot yang dilengkapi dengan cairan merkuri dan batang silinder. Pada bagian batang hidrometer, terdapat deretan skala di mana skala ini digunakan sebagai penunjuk besaran ukuran cairan yang tengah diukur.

Dengan adanya skala pada batang silinder ini, cairan dapat dengan mudah untuk dibaca berat jenisnya. Kita pun dapat membaca skala nya secara langsung.

Hidrometer sangat bermanfaat karena dapat digunakan untuk mengukur berbagai jenis cairan yang memang ingin diketahui berat jenis dan densitas airnya. Misalnya saja cairan susu yang akan diukur tingkat kepadatannya, akan diketahui dengan mudah dan instan hanya dengan menggunakan alat ukur ini.

Selain dapat mengukur tingkat kepadatan susu, dengan alat ini, akan diketahui dengan mudah tingkat kepadatan gula yang tercampur pada cairan susu tersebut. Contoh cairan lainnya yang dapat diukur dengan menggunakan hidrometer ini yaitu minuman beralkohol.

Dengan mudah dan cepat, kadar alkohol dalam suatu merk minuman beralkohol tertentu dapat terbaca, apakah kandungan alkoholnya rendah atau tinggi.

Prinsip Kerja Hidrometer

Penasaran dengan prinsip kerja hidrometer? Anda pastinya sudah pernah mengetahuinya karena memang menggunakan prinsip kerja Archimedes yang pernah kita pelajari saat masih duduk di bangku sekolah.

Masih ingatkah Anda? Hukum Archimedes mengatakan bahwa suspensi pada fluida akan ditopang oleh besar kekuatan yang sama dengan berat fluida itu sendiri. Artinya, semakin kecil kerapatan suatu zat, hidrometer akan jauh tenggelam. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan detailnya:

Prinsip kerja hidrometer yang mengaplikasikan Hukum Archimedes itu sendiri sebenarnya sering dijumpai di kehidupan sehari-hari kita. Hukum Archimedes itu sendiri menekankan pada statemen berikut: benda yang masuk atau tercelup dalam fluida (benda cair, gas, dan bukan benda padat) akan mendapatkan gaya dorong dengan arah atas yang besarannya sama dengan berat jenis fluida tersebut.

Dengan demikian, ketika hidrometer dimasukkan ke dalam suatu cairan, cairan tersebut akan kembali memberi gaya ke atas dengan besaran yang sama dengan cairan yang dipindahkan.

Nah, alat ukur ini berperan untuk mengkonversi gaya ke atas tersebut menjadi satuan massa jenis cairan tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena di dalam alat ukur ini terdapat cairan dengan massa jenis yang telah diketahui melalui angka yang terlihat pada skala.

Sejarah Munculnya Hidrometer

Hidrometer pertama kali dibuat oleh Antoine Baume yang lahir pada tanggal 26 Februari 1728 dan wafat pada tanggal 15 Oktober 1804 saat berusia 76 tahun. Beliau adalah seorang ahli kimia asal Perancis.

Beliau lahir di Senlis dan mulai tertarik dengan bidang Kimia setelah sering menghabiskan waktu bersama seoran kimiawan yang bernama Claude Joseph Geoffroy. Kemudian sekitar tahun 1752, Baume diterima sebagai bagian dari Ecole de Pharmacie. Masih di tahun yang sama, beliau mendapat gelar professor dari sana.

Sekitar 30 tahun sibuk sebagai profesor, ia kemudian memutuskan untuk pensiun dini dan fokus pada bidang kimia terapan. Namun karena saat itu sedang terjadi Revolusi Perancis, ia kemudian kembali aktif di Ecole de Pharmacie demi mendapatkan keuntungan financial yang memadai.

Buame telah mencetuskan banyak temuan mutakhir yang berkaitan dengan proses teknis. Sebut saja contohnya proses pemutihan kain sutera, pengemasan kain sutera, dan proses pemurnian kalium nitrat, serta masih banyak temuan lainnya.

Dari sekian banyak hasil temuannya, ada satu temuannya yang sering diidentikan dengan kimiawan yang satu ini. Temuan yang dimaksud adalah Hidrometer berskala Baume.

Hidrometer adalah alat ukur kepadatan cairan. Nama kedua beliau disematkan sebagai nama alat ukur kepadatan cairan tersebut sebagai wujud rasa hormat bagi sang penemu.

Tentang Skala Baume

Skala Baume sendiri merupakan sepasang skala jenis hidrometer yang diciptakan oleh seorang ahli kimia yang bernama Antoine Baume. Skala ini terbukti efektif dapat mengukur tingkat kepadatan berbagai jenis cairan. Dalam hal ini, yang diukur adalah berat jenis dari cairan yang diukur.

Skala Baume sendiri memiliki notasi dalam satuan derajat Baume. Terdapat salah satu cara atau langkah untuk mengukur kepadatan cairan, berat jenis dengan menggunakan alat ini, yaitu dengan menggunakan prinsip cairan lebih ringan daripada air, dan Buame dari air hasil sulingan adalah nol.

Cara Membaca Hidrometer

Sebenarnya cara membaca hasil pengukuran massa jenis suatu zat cair dengan menggunakan hidrometer tidak terlalu sulit. Caranya yaitu hanya dengan membaca skala yang tertera pada hidrometer.

Hasil pengukuran massa jenis suatu zat cair ditunjukkan oleh angka pada skala di mana angka tersebut ditunjuk oleh zat cair yang bergerak naik di dalam hidrometer. Kemudian satuan ukuran untuk massa jenis yang diukur oleh hidrometer adalah g cm-3.

Perawatan Hidrometer

Cara perawatan hidrometer pun tak sulit. Alat cukup disimpan di wadah dengan suhu ruangan (20 derajat Celsius) dengan tujuan agar tidak terjadi perubahan akibat kenaikan suhu.

Kemudian, usaha kondisi ruangan yang digunakan untuk menyimpan tidak dalam kondisi lembab agar alat tidak terkena korosi. Hindari alat dari benturan atau guncangan karena bisa saja benturan atau guncangan keras dapat membuat alat ini pecah.

Jangan lupa masukan kembali alat ke dalam wadahnya usai dipakai. Dan, yang paling penting adalah gunakan alat sesuai dengan fungsi dan wajib sesuai dengan aturan penggunaannya.

Cara Membuat Hidrometer Sederhana

  1. Anda juga bisa membuat hidrometer sendiri loh. Caranya, siapkan beberapa bahan seperti sedotan ukuran sedang, plastisin, penggaris, bolpoin, gunting, kertas milimeter, dan air suling. Kemudian mulai lakukan beberapa langkah berikut:
  2. buat bulatan dengan menggunakan plastisin dengan ukuran sebesar bola bekel, lalu tempelkan bulatan ini pada salah satu ujung sedotan
  3. celupkan bagian sisi sedotan yang telah ditempel bulatan plastisin ke dalam wadah yang berisi air suling. Usahakan agar sedotan tidak tercelup secara keseluruhan (sisakan kira-kira 8 cm dari permukaan air suling) dan usahakan sedotan tetap berdiri dengan tegak.
  4. Beri tanda bagian sedotan yang menjadi batas antara bagian sedotan yang tercelup air suling dan bagian yang tidak tercelup.
  5. buat skala secara manual dengan memanfaatkan kertas milimeter. Perlu diketahui bahwa massa jenis air murni adalah 1. Maka dari itu, tanda batas kita beri angka 1. Deretan angka pada skala adalah 1, 0.9, 0.8, 0.7, 0.6, dan seterusnya hingga ke atas, sedang untuk bagian bawah, tulislah angka 1,1 1,2 1,3 dan seterusnya.
  6. Tempelkan skala buatan ini pada sedotan lalu lapisi permukaan sedotan denga plester agar tak basah ketika tercelup air.
  7. Cek hidrometer buatan dengan rumus p = m/ A.h atau p = m/v (p untuk massa jenis, m untuk massa hidrometer, h untuk tinggi hidrometer, dan A untuk luas penampang hidrometer).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *